
Tak pernah terfikir bagaimana sebuah pensil kecil yang dulu saya temukan, bisa mempertemukan dia dan saya lagi, dia yang saya fikir tak pernah saya temukan lagi setelah pertemuan lama itu, pertemuan yang belum memperkenalkan kita. Ya saya pun tak mengerti, atau karna saya berani mengakui bahwa saya sangat mengagumi maka saya bisa berteman dengannya.
Perlahan saya mulai menemukan dia, menyapa, dan mendapat sapaannya. Saya mengenalnya, mencoba menggali relief kehidupannya, dan saya semakin mengaguminya.
Tapi dia sangat jauh disana dan saya ada disini. Disini saya pun mengenal beberapa pria yang membuat saya juga sangat terkagum. Tapi tak ada yang menyainginya, dia tetap yang paling indah, karna dia tidak datang seperti lelaki lain yang berani mengusik saya, datang menawarkan berbagai mimpi kebahagiaan, kesetiaan, yang indah tak terbayangkan sebelumnya.
Tetaplah saya wanita, tetaplah saya seorang yang tidak pernah sempurna, dan saya mulai menyukai salah satu diantaranya, namun dia pergi, begitu saja, mudahnya meninggalkan saya. Memang tak pernah terjadi apapun, namun hati saya ditinggalkannya remuk sendirian, menangis, terluka.
Dan pria itu yang sangat saya kagumi, masih disana, dia tak pernah tau hati saya pernah tersakiti, yang berarti saya tidak menjaga perasaan ini, tapi tetaplah saya wanita biasa. Walau terkadang banyak yang mengira untuk seorang saya, dapat menjaga perasaan sampai nanti sampai saya dijemput dengan perasaan yang benar-benar diperbolehkan.
Tapi memang rasa itu tak pernah dilarang hanya saja mungkin terkadang yang berlebihan itu yang tidak diperbolehkan. Saya bersalah rasanya, tentu padanya juga..
Tak kuasa sepertinya saya berfikir
Dia original dan saya origami
Karna sangat menoreh rasa tak pantas untuknya
Saat ini pria itu masih disana menatap bulan yang sama dengan saya disini, menatap tinggi ditempat berbeda hanya agar kita merasa dekat. Indah dan tidak berlebihan, inilah yang patut saya jaga. Dia masih pria yang paling saya kagumi..hanya dia yang mengisi harapan saya, yang ada dalam harapan, harapan yang tak sirna begitu saja. Dan saya, juga dia entah sampai kapan mengirimkan kata-kata yang tak tertuju, hanya hati ini akan merasa teruntuk …merasa indah, indah yang terjaga..
[Berharap esok hari kami menatap bulan yang sama ditempat yang sama]
untuk mami *ririn*
sulit aku mencoba menulis untukmu
Posted in friend, woman